Sejarah Ikan cupang
SEJARAH IKAN CUPANG
Ternyata ikan cupang adu sudah dikenal sejak 200 tahun silam di Thailand, tepatnya di daerah Siam. Masyarakat Siam menyukai ikan cupang karena kemampuannya dalam bertarung. Ikan ini sering diadu untuk menentukan siapa yang paling kuat di antara keduanya. Dan tentu saja pada masa itu, adu ikan cupang ini sering dijadikan taruhan di antara masyarakat Siam. Bahkan tak jarang masyarakat Siam mempertaruhkan segala hal yang dimilikinya pada pertarungan ikan petarung ini. Lama kelamaan, kepopuleran ikan cupang ini terdengar sampai ke kuping Raja Siam. Akibat kepopuleran ikan cupang ini, akhirnya Raja Siam mengumpulkan ikan petarung ini dan mengoleksinya. Kemudian Raja Siam membuat peraturan serta pajak mengenai adu ikan cupang.
Sebenarnya tujuan dari adu ikan cupang ialah untuk melihat seberapa besar keberanian dari si ikan itu. Pertarungan ikan cupang ini bukan membuat ikan tersebut berduel hingga mati ataupun menjadi tercabik-cabik satu sama lain. Yang menjadi taruhan di sini ialah berapa lama si ikan cupang akan berjuang dan siapa yang akan menang. Ikan cupang ini bisanya hanya mengalami sekali atau dua kali pertarungan dalam hidupnya. Setelah itu si cupang hanya akan berkembang biak agar menghasilkan keturunan yang lebih gagah berani lagi.
Akibat dari kegilaan masyarakat Siam terhadap ikan yang satu ini, akhirnya banyak masyarakat Thailand yang berusaha mengembangbiakannya agar didapatkan keturunan yang lebih baik lagi. Masyarakat Thailand pada jaman dulu sudah sering melakukan perkawinan silang jenis cupang petarung dengan cupang liar ataupun dengan cupang unggulan dari peternak lain. Tujuannya ialah untuk mendapatkan ikan petarung yang hebat, baik dari segi ukuran, warna, dan kekuatannya. Namun karena tidak adanya seleksi alam, setelah beberapa generasi, akhirnya terciptalah jenis cupang yang memiliki sirip dada dan punggung yang panjang. Memang ikan cupang ini memiliki bentuk yang menawan, namun ikan tersebut ternyata telah kehilangan kemampuannya sebagai petarung, karena kurang agresif dan gerakkannya juga kurang gesit.
Sekitar tahun 1840-an, Raja Siam menyumbangkan beberapa koleksi ikan cupang kepada koleganya, yang kemudian berpindah tangan kepada seorang ilmuwan ahli genetika yang bernama Dr. Theodor Cantor. Sembilan tahun kemudian, Cantor menerbitkan sebuah artikel tentang ikan petarung ini yang kemudian diberi nama Macropodus pugnax. Namun demikian, pada tahun 1909 nama Macropodus pugnax terpaksa dirubah atas saran dari Tate Regan. Regan menjelaskan bahwa sudah ada spesies di alam yang memiliki nama tersebut. Akhirnya nama latin ikan petarung tersebut diganti menjadi Betta splendens dan digunakan hingga saat ini.
Sekitar tahun 1960-an, peternak asal India telah berhasil mendapatkan jenis cupang yang memiliki dua helai sirip ekor yang disebut double tail. Lama-kelamaan hobi memeihara ikan hias mulai melanda Eropa dan Amerika. Hal ini ditanggapi oleh masyarakat Asia dengan melakukan persilangan cupang bersirip panjang secara besar-besaran. Pada tahun 1960 pula, peternak asal Amerika yang bernama Warren Young, berhasil menyilangkan cupang dengan sirip yang sangat panjang dan dinamainya dengan “cupang Libby” dan kemudian berkembang menjadi jenis veil tail.
Selain di India dan Amerika, ternyata peternak asal Jerman juga berhasil menemukan ikan cupang dengan bentuk unik. Peternak asal Jerman yaitu Dr. Eduard Schmidt-Focke berhasil menyilangkan cupang jenis deltatail yang pertama yang memiliki ekor berbentuk segitiga yang simetris. Kemudian pada tahun 1967 didirikan IBC (International Betta Congres) yang bertujuan untuk menyilangkan cupang yang mempunyai sirip yang lebar dan simetris agar memiliki kemampuan berenang yang lebih baik.
Balik lagi ke Amerika, pada tahun 1980 peternak asal Amerika yaitu Peter Göettner dan Paris Jones, berhasil mengembangkan jenis superdelta dengan sirip yang sangat besar. Tahun 1987 peternak asal Perancis yaitu Guy Delaval berhasil memperoleh ikan dengan sirip yang bersudut 180 derajat. Namun, Rajiv Massilamoni menyangsikan hal tersebut dan menganggapnya tidak mungkin bisa terjadi karena biasanya cupang dengan ekor delta atau superdelta yang asimetris hanya mempunyai sudut 160 derajat. Akhirnya, sekitar tahun 1991, Jeff Wilson, Laurent Chenot, dan Rajiv Massilamoni menemukan ikan yang cupang yang benar-benar memiliki sirip 180 derajat yang kemudian dinamakan “halfmoon”.
Tak disangka, ternyata peternak dari negeri kita sendiri juga berhasil menemukan cupang dengan ekor yang unik. Peternak asal Indonesia yaitu Ahmad Yusuf berasal dari Jakarta Utara, ada juga yang mengatakan Muhammad Yamin asal dari Jakarta Barat menemukan sirip yang berjenis serit (crowntail) yang mempunyai ciri khas tulang siripnya tumbuh melampaui sirip. Penampilan sirip ikan ini seperti sisir sehingga ikan ini juga disebut jenis combtail. Penelitian mengenai sirip dan ekor cupang masih terus dilakukan hingga saat ini agar tercipta bentuk sirip dan ekor yang semakin baik, baik dari segi keindahan maupun fungsinya.
Referensi : https://www.kaskus.co.id/thread/52a32b54fdca17d17d8b4600/mengenal-ikan-cupang-yang-memukau-dunia-pic/

Leave a Comment